![]() |
Pesta rakyat (Ilustrasi) |
Apa
bedanya pesta rakyat ala presiden terpilih Jokowi dan Rafi Ahmad? Tak ada
bedanya. Dua-duanya sebatas luapan hedonisme. Kalau pesta Rafi ia merogoh kocek
sendiri dan sponsor, sedangkan pesta Jokowi entah merogoh kocek siapa dan
disponsori siapa? Apalagi pesta rakyat itu tak cuma di Jakarta, tapi se
Indonesia.
Padahal
dengan baju kotak-kotak dan celananya, Jokowi cuma punya empat kocek. Satu kocek
baju depan dirogoknya untuk beli sepatu di Pasar Rumput. Tiga kocek celana muka
belakang sudah terpakai bayar ojek ke Tanah Abang, dan juga untuk bayar bajaj
dan makan di Warteg selama blusukan. Lalu dari kocek mana lagi membiayai pesta
tiga hari tiga malam beruntun itu?
Jokowi cuma
seorang presiden terpilih, yang sebelumnya hanya tukang mebel sederhana. Harga
bajunya cuma Rp.100.000, sepatunya juga hanya Rp.160.000. Kemana-mana
(blusukan) Jokowi kerap naik bajaj, atau ojek. Bahkan sering jalan kaki. Kalau
di statistik BPS, mungkin Jokowi tengger di kolom hampir miskin (near poor). Sedikit tingkah naik taxi
dan makan di restoran Padang elit, ia langsung terlempar ke kolom miskin BPS. Atau
misalnya ia korban inflasi hebat di Indonesia, akibat harga BBM mendidih dan
mengganas; juga langsung miskin.
Dalam
nomenklatur presiden RI, Jokowi satu-satunya presiden Indonesia paling teramat miskin
di republik hampir miskin ini. Bukan sederhana. Kalau kemiskinan Jokowi itu
lalu dipaksa sederhana lagi, bisa-bisa ia mati kering. Apa yang mau
disederhanakan wong dia sudah miskin.
Sama
halnya Jokowi hendak menaikan harga BBM 50% lalu rakyat disuruh hidup
sederhana? Apa yang mau disederhanakan lagi? Kalau kemiskinan rakyat diperas
paksa jadi sederhana, itu apa namanya !
Lantas
kalau Jokowi bikin pesta syukuran rakyat tiga hari tiga malam berantai, berarti
ia pura-pura miskin? Apa iya pesta semeriah itu, seharga sepatu dan baju
Jokowi? Atau mungkin saja pendukungnya menimpali, itu dana pesta sumbangan dari
rakyat. Lantas rakyat yang mana?
Coba
lihat rakyatnya, saban hari, nyinyir karena rencana naiknya harga BBM secara
bertahap hingga 50%. Berikut ikut
terkerek harga kebutuhan dapur. Itu saja rakyat sudah mencla-mencle. Apalagi disuruh nalangin
pesta Jokowi? Coba saja anda tanya ibu-ibu rumah tangga, bagaimana jika harga BBM
naik, berikut harga kebutuhan pokok, pasti jawabannya diserta pasang muka
persis angka “69”.
Kalau Rafi
berpesta itu sangat wajar, karena mensyukuri kontak organ vital dengan Nagita yang
sudah halal oleh agama. Yang tidak wajar itu Jokowi, apa iya mengelola kemiskinan
rakyat harus dengan pesta tak karuan?
Apa iya
mengelola sebuah negara miskin dengan berpesta-pora? Rafi pun masih dinyinyiri,
kalau pesta nikahnya yang mewah itu semena-mena menggunakan frekuensi publik hanya
untuk tontonan yang tak ada postifnya. Lantas apa positifnya pesta-pora menyambut
pelantikan Jokowi?
Coba
secara berjamaah kita membayangkan, apakah layak pesta itu digelar, sementara
sebentar lagi rakyat dibakar gelisah akibat harga BBM naik hingga 50%? Apa
layaknya pesta itu, sementara gini ratio
kita semakin tinggi, disparitas orang kaya dan miskin semakin ternganga lebar?
Apa layaknya pesta kalau defisit neraca perdagangan kita terus membuat rupiah
terancam depresi? Apa yang dirayakan? Kemenangan? Kemenangan atas apa? Siapa
yang dikalahkan? Prabowo atau rakyat pendukung Prabowo?
Sejenak
kalau kita buka kamus dan sejarah: Dalam tradisi masyarakat agraris nusantara,
pesta adalah perjamuan makan minum (bersuka ria dsb) disertai perayaan sesembahan
(ritualisme); karena hasil panen
berlimpah bagi para petani. Pun
misalnya; budaya pesta dalam tradisi masyarakat
nusantara, lebih dikenal sisi spiritualnya. Itu pun bentuk kesyukuran atas
hasil pertanian atau hasil tangkapan oleh para nelayan sejak tempo doloe.
Jadi pesta dalam tradisi nusantara, lebih pada bentuk kesyukuran atas
kemakmuran yang disertai dengan tindakan-tindakan spiritual. Lalu apa dimensi
spiritual atas pesta rakyat dengan menghadirkan artis-artis setengah telanjang
di hadapan khalayak? Objek kesyukuran apa yang dilakukan?
Yang pasti, pasca pesta yang tumpah-ruah itu, pemangkasan
subsidi energi rakyat akan dilakukan pemerintahan Jokowi, yakni dengan
menaikkan harga bahan bakar subsidi (BBM) secara bertahap selama tiga tahun
hingga harga BBM bersubsidi sesuai dengan harga pasar, yakni Rp 13.000 per
liter dari harga saat ini sebesar Rp 6.500.
Kenaikan
harga BBM bersubsidi mulai dilakukan tahun 2015 dengan kenaikan 20 persen,
menyusul 50 persen dan 30 persen hingga 2017. Yang pasti, pasca pesta-pora
itu, inflasi tahun 2015 akan mencapai 6,9
persen, lebih tinggi dibandingkan prediksi tahun 2014 sebesar 5,8 persen.
Siapa yang buntung? Lalu apa yang disyukuri?
Akhirnya pesta Rafi Ahmad, jauh lebih bermartabat, karena dengan uang
sendiri dan sponsor, spiritualitas akad pernikahaannya sedikit dibumbuhi
hodonisme. Tapi Rafi jujur dan tak menyaku dalam-dalam hedonismenya sejak dulu.
Berbeda dengan Jokowi, kemasannya sederhana dan miskin, tapi nyatanya? Inilah
pesta dengan objek kesyukuran yang paling absurd.
Hidup rakyat ! Merdeka !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar